Conscience of A Cop

Gagal di maki, Berhasil tak dipuji

Polisi di Jepang

Posted by uways pada Juli 27, 2010

Pengalaman dari Hendri Budiman S Sos MM

Negeri Sakura, Jepang, terkenal dengan panorama alamnya yang indah. Selain itu, Jepang juga terkenal nyaman, warganya ramah-tamah, disiplin, dan segala sesuatunya teratur. Negeri yang terkenal dengan senjata samurai itu menguasai teknologi tinggi namun tetap tidak kehilangan budayanya.

Saya sangat beruntung ketika memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke sana. Kunjungan ke Jepang ini bukanlah tamasya, melainkan terfokus pada kegiatan studi banding yang diikuti oleh 24 Perwira Polri. Penugasan tersebut dalam rangka percepatan Reformasi Polri, yang menyangkut tiga hal, yaitu bidang struktural, kultural, dan instrumental. Reformasi ini diperlukan dalam rangka terciptanya Polri sipil yang demokratis, profesional, dan dekat dengan masyarakat, sehingga memahami betul harapan dan keinginan masyarakatnya.

Kegiatan studi banding ini dilaksanakan selama lebih kurang dua bulan, dengan sasaran tempat pelatihan adalah tiga PPH (Prefecture Police Headquarter, atau Markas Besar Kepolisian Prefecturet, kira-kira setingkat Polda di Indonesia) di Jepang, yaitu PPH Niigata, PPH Kanagawa, dan PPH Osaka. Di bawah masing-masing PPH terdapat tiga Police Station (PS, setingkat Polres di Indonesia), kecuali PPH Niigata yang hanya membawahi dua PS.

Studi banding ini sangat berkesan dan memberikan berbagai pengalaman yang menarik serta menambah khasanah, wawasan, dan tentu saja kenangan. Pasti banyak pengalaman untuk dibagi dengan rekan-rekan di Indonesia. Kisah di bawah ini hanya sebagian kecil dari pengalaman yang saya peroleh sewaktu mengikuti kegiatan pelatihan di Prefektur Osaka.

Osaka adalah kota terbesar kedua setelah Tokyo, dengan populasi yang besar. Di kota ini ada Benteng Osaka (Osaka Castel), warisan sejarah lama yang sangat terkenal di Jepang. Selain itu, Osaka adalah tiang penyangga. Perekonomian Jepang. Di kota ini terdapat pusat perbelanjaan (mall) yang terbesar di Jepang. Dan sebagian bangunannya berlokasi di bawah tanah.

Di Prefektur Osaka terdapat 64 Police Station (PS), salah satunya adalah Tennoji Police Station, tempat saya mengikuti pelatihan untuk mendalami dan merasakan secara langsung aplikasi kepolisian Jepang yang sangat terkenal dengan konsep comunnity policing-nya.

Karakteristik lingkungan di Police Station ini adalah kota peribadatan, karena terdapat banyak kuil serta merupakan daerah pendidikan karena banyak perguruan tinggi. Tennoji Police Station memiliki 7 Koban, salah satunya adalah Koban Ekimae. Arti kata “ekimae” sebenarnya adalah “depan stasiun,” tetapi kami, polisi Indonesia peserta pelatihan, menyebutnya sebagai oban Gajah,” karena bentuk bangunan yang persis menyerupai gajah.

Barangkali arsitek “Koban Gajah” terinspirasi dari kebun binatang yang sangat indah dan berlokasi di dekat Koban ini. Kalau di Indonesia, kira-kira mirip dengan kawasan Kebun Binatang Ragunan di Jakarta. Bedanya, tidak ada bangunan pos polisi di sekitar Ragunan yang mirip gajah atau binatang lain.

Selama satu bulan lebih belajar di Police Station (Koban Ekimae), saya memetik banyak sekali pelajaran yang dapat diterapkan bagi Polri masa mendatang.

Pelajaran pertama disiplin waktu
Disiplin agaknya merupakan nafas bagi orang Jepang. Masyarakat Jepang sangat menghargai waktu, dan mengelola waktu secara efisien dan efektif.

Selama berada di Negeri Sakura, khususnya di wilayah Osaka, dan lebih khusus lagi di wilayah Tennoji, tidak pernah sekalipun saya melihat polisi Jepang terlambat. Bahkan sering-kali mereka datang lebih awal dari waktu yang ditetapkan. Mengapa mereka begitu taat dengan waktu? Apakah perilaku itu berkaitan dengan prinsip, bahwa waktu adalah pedang, atau mereka menghargai waktu karena moralitas yang sudah begitu baik? Ya. Itulah Jepang.

Yang pasti, masyarakat Jepang memang sangat menghargai waktu. Pelajaran yang dapat kita petik adalah sebenarnya kita dapat memanage waktu. Namun kenapa kita sulit untuk on-time?

Pelajaran kedua dedikasi pada pekerjaan
Mereka, polisi Jepang, tampak sangat happy dalam menjalankan profesi sebagai abdi masyarakat. Dalam menjalankan tugas-tugas penegakkan hukum, terpancar wajah-wajah mereka yang tulus, sehingga bekerja adalah suatu kegiatan yang menyenangkan dan tugas-tugas bukan merupakan beban.

Selama berada di kantor, pada jam-jam dinas, polisi Jepang selalu berada di ruang kerja masing-masing, tidak ada yang berkeliaran. Pimpinan berada di sekitar bawahan tanpa mempunyai ruangan khusus, sehingga bisa saling mengawasi. Tampak sekali bahwa setiap orang memikul tanggung jawab masing-masing, sesuai dengan jabatan yang diemban.

Masalah yang muncul dari bawahan dapat dijawab oleh pimpinan mereka, dan pimpinan lebih bersifat mengayomi dan melayani anak buah. Betulkah jika saya katakan, ini merupakan hal yang langka di Indonesia? Polisi Jepang menempatkan personel pada jabatan tertentu bukan dengan pendekatan kepangkatan, tetapi lebih mengacu kepada kemampuan dan keterampilan yang dimiliki berdasarkan prinsip the right man on the right place, orang yang tepat pada posisi yang tepat pula. Kabar baiknya adalah kinerja berbasis kompetensi itu sudah diterapkan

Dengan iklim kerja seperti itu, anak buah merasa nyaman, tidak perlu kasak-kusuk, karena semua berjalan sesuai prosedur dan mekanisme yang jelas, transparan, dan objektif.

Kapan kita akan berubah seperti mereka? Sebagai perwira, kita sangat mendambakan iklim kerja seperti itu. Suatu iklim kerja yang sehat dan baik akan menghasilkan produk kerja yang baik pula.

Pelajaran ketiga adalah kemampuan menahan emosi
Pengalaman saya bertugas langsung di lapangan bersama polisi Jepang, terutama pada saat-saat berpatroli malam hari dengan menggunakan sepeda, membuktikan hal itu. Pada beberapa kasus, ada anggota masyarakat yang bertindak seenaknya dan tidak mengindahkan himbauan polisi. Kepada orang-orang seperti itu, polisi Jepang tidak pernah emosi dan melontarkan kata-kata yang kasar.

Ketika saya bertanya kepada petugas Koban, mengapa mereka mampu mengendalikan emosi, mereka menjawab, bahwa sewaktu pendidikan kepolisian, mereka didoktrin supaya bangga menjadi polisi. Jika rahasianya hanya demikian, sesungguhnya polisi Indonesia pun memperoleh doktrin seperti itu. Kami juga didoktrin supaya bangga dengan profesi kepolisian, sejak dini sewaktu menjalani pendidikan awal. Namun, di lapangan tidak sedikit kita jumpai anggota Polri yang masih bersikap kurang simpatik seperti berbuat kasar kepada masyarakat, arogan dan lain-lain.

Pelajaran keempat adalah soal salam atau sapa
Mengucapkan salam adalah salah satu ciri polisi Jepang. Mereka sering sekali lebih dulu menyapa anggota masyarakat. Perilaku ini berdampak positif pada citra profesi kepolisian. Menyapa atau mengucapkan salam sudah ditanamkan sejak dini pula, sewaktu mereka menjalani pendidikan. Siswa calon polisi dilatih untuk secara terjadwal berjaga di pos pada saat-saat jam sibuk, yaitu pagi, siang dan sore hari. Mereka diwajibkan menyapa setiap warga yang lewat di depan pos tersebut.

Pelajaran kelima adalah sportivitas
Sikap sportif tumbuh dan berkembang di hati sanubari setiap polisi Jepang. Sikap sportif tidak terlepas dari olahraga wajib mereka, seperti kendo dan judo, yang sangat mengutamakan sifat sportif. Karena latihan-latihan olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas, maka sikap sportif pun terbawa ke dalam perilaku sehari-hari.

Pelajaran keenam menyangkut masalah kehilangan dan temuan barang (lost and found).
Masyarakat Jepang mempunyai kebiasaan baik, yaitu melaporkan kepada polisi bila menemukan barang temuan atau barang hilang. Pada suatu ketika, di Koban Ekimae ada seorang kakek tua yang menemukan surat-surat penting di sekitar Stasiun Tennoji. Barang tersebut dilaporkan kepada petugas Koban, dan petugas pun mengagendakan barang itu secara rapi dan teratur. Barang temuan diserahkan Jce Police Station melalui Seksi Keuangan, untuk kemudian disimpan di gudang.

Masalah barang hilang atau temuan diatur di dalam undang-undang. Si penemu berhak memperoleh bagian hingga 20 persen dari nilai total barang temuan. Jika dalam waktu 6 bulan 10 hari, yaitu ketika barang tersebut dianggap kadaluwarsa, tidak ada klaim dari pemilik, maka barang itu sah untuk dimiliki oleh si penemu. Tetapi, berdasarkan hasil wawancara, tidak banyak warga yang mengharapkan persentase bonus dari barang temuan, karena mereka sangat tulus dan ikhlas, sehingga kurang berharap akan balas jasa materiil. Hebat!

Pelajaran ketujuh menyangkut profesionalisme
Polisi Jepang sangat profesional dalam melaksanakan tugas-tugas mereka, khususnya dalam bidang yang ditekuni. Sebagai contoh, identifikasi kriminal yang secara struktural berada di bawah Seksi Investigasi Kriminal merupakan fungsi yang populer.

Pada saat pelatihan Ident (Identifikasi) di PPH (Polda) Osaka, wartawan setempat banyak sekali yang hadir dan meliput kegiatan simulasi olah TKP. Hasilnya termasuk publikasi kegiatan tersebut di sebuah suratkabar yang cukup terkenal di Jepang Dalam wawancara dikatakan, bahwa semua polisi Jepang bisa melakukan identifikasi dengan metode serbuk.

Setiap kali kita ke TKP bersama mereka, tidak tampak adanya ego sektoral dari fungsi kepolisian Jepang. Sebaliknya, para petugas justru saling mendukung satu sama lain, saling sinergis dalam menangani suatu perkara atau kasus, sehingga terbangun hubungan yang kondusif.

Community Policing adalah “wajah” Kepolisian Jepang. Mereka seolah-olah menjadi etalase bagi kepolisian negeri Sakura ini. Saya banyak sekali memperoleh pengalaman yang menarik sewaktu mengikuti kegiatan-kegiatan mereka di Koban (Pos Polisi Perkotaan) atau Chuzaisho (Pos Polisi Pedesaan). Misalnya, kegiatan patroli, penjagaan, pelayanan, dan kunjungan (P3K).

Inilah salah satu kunci keberhasilan kedekatan polisi dan masyarakat. Sesungguhnya, di Polri sendiri kegiatan P3K bukan sesuatu yang baru. Polri sudah melakukannya sejak lama. Tetapi, muncul pertanyaan yang menggelitik, mengapa masyarakat kurang dekat dengan polisi Indonesia? Mengapa kepercayaan itu seolah-olah hal yang langka bagi polisi kita? Dimana letak kesalahan penerapannya? Apakah kita tidak taat asas? Bagaimana komitmen moral kita?

Tidak ada kata terlambat untuk berubah (Change). Tinggal bagaimana kita semua-seluruh anggota Polri – bertekad untuk merebut kepercayaan masyarakat, simpati rakyat, dengan mengadopsi sistem kepolisian Jepang yang telah berhasil meraih simpati rakyatnya tanpa meninggalkan budaya, mulai hari ini, mulailah dengan diri masing-masing, konsisten dengan komitmen moral. Pasti bisa!

Copied From :SELAPA POLRI Oleh Hendri Budiman S Sos MM

Satu Tanggapan to “Polisi di Jepang”

  1. Ririn said

    saya sangat tertarik dengan segala sesuatu yg berhubungan dr jepang…
    mohon ijin untuk memakai artikel ini sebagai dasar presentasi saya…
    domo arigato gozaimasu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: